…Kalau kita udah mempersiapkan diri bakal jatuh, saat jatuh beneran, rasa sakitnya nggak bakalan seberapa.…
—
—
— Perahu Kertas ( Dewi Lestari )
(via cinders00)
(Source: cinders00)
(via cinders00)
Luar biasa. Mungkin ini kata yang bisa ku gambarkan saat ini. Lelah nampaknya, tapi cukup sudah kata putus asa saya lontarkan. Semua dimulai dari dua nilai dari ujian tengah semester saya yang diambang batas kegagalan, bukan keberhasilan. Takut, itu memang kata yang ada di benakku. Takut akan kegagalan yang akan saya dapat pada akhir waktu nanti. Namun hal nilai ini, bukan sesuatu yang menampar benak pikiran saya untuk menulis. Tapi hal yang lain.
Ya, hal lain ini adalah kemampuan saya sebagai seorang laki-laki dan seorang pemimpin. Pertama mungkin sebagai laki-laki. Laki-laki mungkin seorang yang tangguh, kuat, tak gentar, mampu membuat pilihan-pilihan ketika kondisi dan situasi mereka sangat tidak mungkin membuat sebuah pilihan. Namun hal itu tidak benar, walaupun sesungguhnya itu harus mampu mereka lakukan (menurut saya, bagaimana dengan anda?).
Saya, laki-laki, 19 tahun yang dalam 6 bulan, 10 hari, 22 jam, 38 menit ketika mulai menulis ini akan menjadi 20 tahun. Ya, 20 tahun. Sebuah perubahan dari angka 1 dan 2 yang mungkin tak berarti di balik mata seorang awam. Tapi mungkin 20 tahun adalah waktu di mana sebuah titik revolusi dapat terjadi. Jujur, saya mungkin tidak berbakat dalam menulis dan merangkai kata, tapi saya tidak peduli, kalau anda baca mohon jangan kritik saya, beri saran saja.
Balik lagi ke kondisi di atas. Ya, betul saya hampir mengatakan menyerah. Menyerah dalam hal perjuangan sebuah aktivitas organisasi dari kemampuan para tersingkir yang asalnya dari para intelektual, dari para calon peraih cum laude, dari para aktivis kampus. Memperjuangkan hak kami sebagai kaum kedua, kaum yang dinilai tak mampu bertanggung jawab atas akademiknya. Sakit, tapi mau bagaimana? Semua harus tetap jalan kan? Dan saya mungkin mendapat buah yang sedikit ranum hari ini. Bertemu seorang yang membangkitkan rasa petualangnya. Bagai NaOH bercumbu dengan H20, memercikan api, lambang dari sebuah semangat menggelora dalam diri. Kaget serta tidak menerka bahwa bertemu dengan seseorang yang sangat sangat rendah hati, walaupun bagi saya, ia telah meraih impian yang mungkin saya inginkan.
Ya, saya adalah seorang ketua, tepatnya mungkin pembantu (pembantu bukan pelayan, ingat!). Ketua dari organisasi fotografi yang mungkin baru punya 1 digit dalam hidupnya, 3 tahun, ketua ketiga. Awalnya mungkin saya memang pasif, saya mengakuinya. Saya tidak mampu mempertahankan angkatan yang harusnya saya bina, yang mulai lepas satu persatu. Saya malu, kesal, benci pada diri saya. Marah mungkin dapat terjadi bila amarah dalam hati ini saya lepas, tapi saya belajar menahan diri dari ibu yang membesarkan saya, yang di mana si sabar ini mampu memberkati saya di hari-hari terberat saya, mungkin.
Untungnya masih ada orang-orang yang dapat membuat semangat saya bangkit. Dari satu, dua, tiga dan akhirnya terkumpul 30 orang, walaupun mungkin yang saya kira membuat diri ini benar-benar bangkit hanya sampai 10 orang. Mereka hebat, komitmen tinggi. Bukan omongan tolol macam dpr, menjual diri bagai pelacur, mempertahankan janji bagai si bolot yang selalu lupa dan harus dikasih tau dengan teriak (kalau ada yang tersinggung, baguslah, anda mungkin sadar (Y)). Saya tau anda semua sibuk, tapi bukankah sibuk adalah makanan kita sebagai mahasiswa yang aktif? Maaf bila anda pasif tapi aktif bagi saya adalah cara untuk tetap mampu mebuat roda kehidupan saya tetap berputar, sehingga saya mampu kembali ke titik tertinggi roda saya.
Terima kasih untuk para teman, anggota-anggota yang mungkin capek dengan rapat ini rapat itu. Maaf bila saya tetap mengecewakan anda. Maaf.